Kilometer 0 Sabang

Monumen Kilometer Nol ini berada di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Provinsi Aceh. Butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan menggunakan mobil dari Kota Sabang menuju tugu monumental ini.

Selama perjalanan dari Kota Sabang menuju ke monumen ini, wisatawan akan disuguhi keindahan alam Pulau Weh. Di sisi kanan berupa hutan perbukitan yang nampak hijau dengan vegetasi yang rapat. Sedangkan sisi kiri terlihat deretan pantai-pantai nan eksotis dan beberapa pulau yang bakal membuat takjub mata yang melihatnya.

Tak jarang pengunjung akan menjumpai kawanan monyet-monyet liar di sepanjang jalan di tengah hutan. Monyet-monyet itu menatap iba kepada kendaraan yang melintas berharap mendapatkan makanan.

Tugu Kilometer Nol ini pertama kali diresmikan pada tanggal 9 September 1997 oleh wakil presiden yang ketika itu dijabat oleh Try Sutrisno. Sekitar dua minggu setelah diresmikan, tepatnya pada tanggal 24 September B.J. Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi menambahkan semacam prasasti yang menjelaskan tentang penetapan posisi geografis 0 kilometer Indonesia, yang pengukurannya dilakukan oleh badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menggunakan Global Positioning System.

Sebagai tempat wisata, kawasan Tugu Kilometer Nol juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang cukup memadai. Di sekitar tugu, wisatawan bisa menemukan tempat parkir, taman, tempat sampah, toilet umum, dan juga musala. Persis di depan tugu, wisatawan juga bisa menemukan banyak pedagang yang menjual cinderamata, kedai kopi, restoran hingga ibu-ibu yang menjajakan gorengan dan rujak khas Aceh.

Setelah berkali-kali mengalami renovasi, Tugu Kilometer Nol kini terlihat semakin megah. Menurut prasasti, ketinggian bangunan tugu mencapai 43,6 meter dari atas permukaan laut. Sedangkan desain dari tugu sendiri memiliki beberapa filosofi, seperti empat pilar yang menjadi penyangga merupakan simbol batas-batas negara yaitu Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote. Lalu lingkaran besar yang ada di Tugu merupakan analogi dari angka 0.

Ada pula senjata rencong di tugu, yang menjadi simbol bahwa Aceh juga turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Selain itu, juga terdapat ornamen berbentuk segi delapan yang menggambarkan landasan ajaran Islam, kebudayaan Aceh dan Nusantara dalam lingkup yang luas sesuai 8 penjuru mata angin.

Karena sangat monumental, wisatawan yang datang ke Kota Sabang pasti berkunjung ke tugu ini. Saat acara Sail Sabang, wisata monumental ini pun ramai dikunjungi wisatawan.

“Belum lengkap rasanya kalau sudah sampai Sabang tapi tidak ke Tugu Kilometer Nol. Ini kan tugu bersejarah,” ujar Imam, wisatawan asal Jakarta di kawasan Tugu Kilometer Nol.

Credited By ; PT. Adiguna Jaya Tour & Travel Aceh – Medan

Benteng Anoi Itam Sabang

Benteng Anoi Itam merupakan sebuah komplek tempat pertahanan Jepang yang terletak di daerah Ujong Kareung, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang. Lokasinya berjarak sekitar 12 KM dari pusat kota Sabang ke arah timur. Karena dekat dengan pantai Anoi Itam maka benteng ini dinamakan sesuai dengan lokasinya yaitu Benteng Anoi Itam. Karena menyajikan wisata sejarah dan alam yang sangat indah maka saat ini Benteng Anoi Itam menjadi salah satu tempat tujuan wisata sejarah yang ada di Kota Sabang.

Sejarah

Pada awalnya benteng ini adalah pusat persenjataan pasukan Jepang yang dibangun pada tahun 1942-1945. Ketika pasukan Jepang mendarat di Sabang pada 12 Maret 1942, mereka langsung menggali terowongan bawah tanah di sepanjang bibir pantai sebagai benteng pertahanan mereka. Tapi saat ini terowongan tersebut telah ditutup oleh pemerintah setempat dengan alasan keamanan.

Bangunan benteng dibangun berbentuk tapal kuda berukuran 1,5 meter bujur sangkar dengan menghadap ke laut. Bangunan ini setengahnya terletak di bawah tanah dan dilengkapi dengan meriam sepanjang tiga meter. Meriam ini diletakkan di sini karena benteng ini juga berfungsi sebagai menara bidik ke arah laut untuk mencegah kapal musuh memasuki wilayah perairan Sabang.

Wisata Benteng Anoi Itam

Selain menikmati wisata sejarah, pengunjung juga dapat menikmati keindahan alam berupa bukit dan pantai. Jika berdiri di atas benteng maka pengunjung dapat melihat ke arah laut lepas dengan perahu nelayan sebagai penghias. Untuk para pemburu foto panorama alam, matahari terbit dan terbenam maka tempat ini menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika sedang berada di Sabang. Di sisi belakang benteng juga terdapat tempat bersantai untuk pengunjung yang ingin menikmati rujak sambil melihat pemandangan laut lepas

Sebagai tempat wisata sejarah, Badan Pelestarian Cagar Budaya Aceh telah melakukan pemugaran situs Benteng Anoi Itam pada tahun 2017. Dari hasil studi kerusakan telah ditemukan bahwa ada empat unit benteng yang perlu direhab, tetapi karena keterbatasan dana maka diprioritaskan untuk melakukan pemugaran pada situs benteng utama. Pemugaran ini dilakukan untuk menjaga keamanan pengunjung karena mereka sering naik ke atap benteng sehingga dikhawatirkan akan jatuh kalau tidak dilakukan pemugaran.

Memasuki lokasi Benteng Jepang Anoi Itam, kita akan disuguhi pemandangan bukit dengan anak tangga dan pepohonan yang rindang. Pantai yang indah dan benteng kecil yang berada di bawah kaki bukit membuat elok lokasi wisata bersejarah ini. Di kiri jalan setapak yang dilalui akan ditemukan bungker-bungker kecil.

Benteng peninggalan Jepang ini dibangun antara tahun 1942-1945 dan digunakan sebagai tempat berlindung pasukan Jepang. Tentara Jepang mendarat di Pulau Weh (Sabang) pada 12 Maret 1942. Para serdadu Negeri Sakura ini lalu menggali terowongan bawah tanah di sepanjang pantai sebagai benteng pertahanan. Namun setelah tiga tahun lebih terlibat Perang Dunia II, mereka takluk dari Pasukan Sekutu dan meninggalkan semua wilayah jajahannya.

 

“Di Sabang ini banyak sekali gua Jepang. Konon benteng-benteng yang tersebar di Sabang ini terhubung melalui terowongan yang banyak ditemui di kota Sabang. Tapi terowongan ini sudah ditutup,” ujar Syarief, salah satu warga Anoi Itam kepada merdeka.com.

Di Benteng ini terdapat sebuah bangunan dengan menara bidik. Bangunan ini dibuat setengah ke dalam tanah dan hanya menyisakan menara bidik untuk mengintai musuh dari atas bukit. Di benteng ini juga masih terdapat meriam dengan panjang lebih dari 3 meter.

“Dulunya meriam ini mengarah ke laut. Benteng ini salah satu benteng pertahanan Jepang di Nusantara,” terang Syarief yang menjelaskan sejarah singkat benteng ini kepada pengunjung yang datang.

Pohon ‘tongkat komando’

Nah di ujung bangunan benteng terdapat pohon yang sangat langka. Pohon Stigi. Kayu Stigi adalah kayu yang banyak masyarakat kenal sebagai kayu dengan kekuatan magis. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang menjulukinya sebagai Raja Kayu bertuah.

 

“Pohon dilarang ditebang. batang dari kayu ini biasanya dibuat sebagai tongkat komando. Tambah berwibawa katanya kalau pakai tongkat dari kayu ini,” ujar Syarief lagi.

Kayu stigi ini mempunyai ciri-ciri keras, kuat dan juga dinamis. Kayu stigi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu stigi laut dan stigi darat. “Nah yang ini Stigi Darat,” imbuhnya.

Credited By ; PT. Adiguna Jaya Tour & Travel Aceh – Medan

Pantai Sabang Pulau Rubiah

Pantai Iboih, juga dikenal sebagai Teupin Layeu, terletak di seberang tepi barat Pulau Weh yang legendaris, atau pulau Weh, di bagian utara Aceh, provinsi paling utara Sumatera.

Bila dibandingkan dengan tapal kuda berbentuk U, Iboih terletak di kiri lengkungan. Lokasi geografis menghadap Samudera Hindia yang terbuka bagi siapa saja untuk datang atau pergi kapan saja, tapi kenangan dan pengalaman yang diterima di sini tidak akan terlupakan begitu saja.

Kota Iboih, terletak di Pulau Weh adalah titik paling barat dari Indonesia. Pantai Iboih (Iboih Beach) akan membawa harapan Anda atas ‘keindahan alam’ ke tingkat yang baru. Pulau kecil, surga yang tersembunyi sebagian besar tetap tak tersentuh oleh banyak kunjungan wisatawan, memberikan suasana yang lebih santai dan santai. Hutannya dengan baik dilindungi oleh garis pantai Iboih yang menawan, pasir keemasan yang penuh dengan batu-batu raksasa. Air dangkal laut yang begitu jelas dapat melihat dasar laut, memiliki rona kebiruan-hijau yang memancarkan perasaan damai dan relaksasi. Pantai yang tampaknya melengkung, menyerupai bibir, tersenyum dan menyambut orang-orang untuk datang dan mengambil bagian dalam kehangatan dan melihat flora dan fauna yang eksotis dari hutan hujan tropis yang merupakan bagian dari kekayaan alam Indonesia.

 

 

 

 

Credited By ; PT. Adiguna Jaya Tour & Travel Aceh – Medan

Taman I Love Sabang

Sabang tidak hanya memiliki Tugu KM 0 tapi juga memiliki Tugu I LOVE SABANG yang selalu menjadi objek favorit para wisatawan. Ada apa sih dengan Sabang ? tak henti-hentinya memancarkan pesona yang sangat memukau untuk dikunjungi.

Untuk anda yang baru pertama kali menginjakan kaki di kota paling ujung barat Indonesia ini jangan sampai melewatkan momen untuk berfoto ria di Tugu I LOVE SABANG.

Bangunan Tugu I LOVE SABANG ini tidaklah jauh dari pelabuhan Balohan yang sengaja di bangun di taman hijau Pemerintah Kota Sabang, tepatnya di sisi kiri jalan protokol, di bawah ujung ketinggian landasan pacu pesawat Bandara Lanud Maimun Saleh dan seberang jalan sisi kanan jalan kita dapat menikmati pemandangan bentangan gunung dan Danau Aneuk Laot yang membentang luas membuat mata kita tak dapat berpaling darinya, jika kita datang pada sore hari tempat ini merupakan salah satu spot untuk menikmati matahari tebenam (Sunset) ke ufuk barat.

Tempat ini sangat ramai di kunjungi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk menikmati pemandangan indah dan untuk mengabadikan momen selfi di Tugu I LOVE SABANG. Buat teman-teman yang berkunjung ke Tugu I LOVE SABANG agar tetap menjaga kebersihan dan keindahan serta menjaga kelestarian Tugu I LOVE SABANG agar masih tetap dapat di nikmati para generasi kita kelak.

Credited By ; PT. Adiguna Jaya Tour & Travel Aceh – Medan

Tarif Harga Sewa Mobil Aceh

 

PT Adiguna Jaya Tour & Travel menyediakan penyewaan mobil berbagai jenis untuk memenuhi kebutuhan anda berkunjung ke Aceh-Sabang-Medan
Dapatkan layanan dengan unit mobil & pengemudi yg berkualitas hanya dari kami

#jasatransportasi #travel #travelsumut #travelaceh #malaysia #pelancongan #pelancongansumatera #pelanconganaceh #wisata #wisatamedan #wisataaceh #wisatasabang#pendudukmalaysia
#mahasiswamalaysia
#gurumalaysia
#pendudukpenang
#pendudukkedah
#khaspendudukbangsajohor
#muslimah
#pelancongmalaysia
#pendudukmalaysia

Credited By ; PT. Adiguna Jaya Tour & Travel Aceh – Medan

Kuburan Massal Siron Aceh

Peristiwa gempa bumi dan tsunami yang melanda provinsi Aceh pada tahun 2004 lalu, tak hanya meninggalkan kesedihan mendalam. Diperkirakan lebih dari 200.000 jiwa penduduk Aceh dan sekitarnya menjadi korban dari kedahsyatan gelombang tsunami ini. Kepedihan akan tragedi memilukan ini, masih bisa dirasakan saat berkunjung ke sebuah pemakaman yang dikenal Kuburan Massal Siron.

Kuburan Massal Siron sejatinya merupakan kuburan massal bagi para korban bencana tsunami. Tercacat sekitar 40.000 jiwa lebih, dikuburkan secara bersamaan di tempat ini. Para korban dikuburkan pada sebuah lubang besar yang sama, tidak ada liang kubur khusus, atau batu nisan yang bertuliskan nama, tanggal lahir ataupun tanggal kematian.

Kuburan Massal Siron

Secara geografis, Kuburan Massal Sirong ini terletak pada Desa Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Lokasi dari tempat ini juga cukup mudah untuk dijangkau, jika dari Banda Aceh maka pengunjung setidaknya harus menempuh jarak kurang lebih 10 kilometer, yang bisa dilakukan dengan berkendara sekitar 30 menit.

Tempat yang menjadi saksi betapa dahsyatnya tsunami meluluh lantahkan tanah Serambi Mekkah ini tak pernah sepi dari kunjungan peziarah. Setiap harinya ada saja pengunjung yang mendoakan sanak saudara yang dikebumikan di Kuburan Massal Siron ini. Dari berbagai suku, etnis dan agama, semuanya bercampur membaur serta menjunjung tinggi toleransi serta tenggang rasa antar umat beragama.

Ziarah di Kuburan Massal Siron

Ketika berada di Kuburan Massal Siron, tak ada kesan seram, angker atau suasana mistis yang sering digambarkan pada tempat pemakaman. Kuburan ini memang cukup unik, karena tidak ditemui gundukan-gundukan makam, atau batu nisan yang berjejer rapi. Hanya hamparan rerumputan hijau, serta pepohonan rindang layaknya sebuah taman pada umumnya.

Kuburan Massal Siron ini dibangun pada lahan seluas 2 hektar, yang 30 persen diantaranya merupakan tanah milik negara. Pembangunannya sendiri dilakukan dengan menimbun sebuah sungai, serta pembebasan lahan milik warga setempat. Sedangkan pengelolaan kuburan ini ditangani langsung oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kuburan Massal Siron

Saat pengunjung tiba, akan terlihat sebuah gapura megah yang menjadi pintu masuk kuburan. Gapura ini terlihat gagah berdiri, dengan 3 pintu masuk yang berhiaskan ornamen sederhana. Memasuki kedalam kuburan, terdapat jalan yang terbuat dari paving serta halaman luas yang dipenuhi rerumputan hijau. Pohon-pohon rindang serta berbagai jenis bunga warna-warni juga menghiasi Kuburan Massal Siron ini.

Pengunjung bisa menemukan adanya sebuah tugu yang berada didalam kuburan, tugu ini bertuliskan “Bencana Kita Sabari, Nikmat Kita Syukuri, Banyaklah Orang Akan Bahagia”. Tulisan ini terpatri pada sebuah keramik yang dituliskan dengan tiga bahasa berbeda yaitu, bahasa Aceh, bahasa Indonesia dan Inggris. Tugu tersebut memiliki tinggi sekitar 2 meter, serta meruncing pada bagian atasnya berbentuk segitiga.

Berjalan menyusuri makam, pengunjung bisa menemukan adanya beberapa pondok yang memang disediakan bagi para peziarah untuk beristirahat. Kuburan Massal Siron ini memang sangat jauh dari suasana menyeramkan atau angker yang selalu identik dengan pemakaman. Suasana di makam ini nampak rindang, asri dan teduh dengan adanya berbagai macam pepohonan serta bunga yang ditanam.

Suasana yang ditawarkan sangatlah nyaman, angin semilir serta udara bebas polusi bisa dihirup oleh para peziarah. Kuburan ini juga telah dilengkapi dengan lampu-lampu layaknya taman biasa. Meskipun demikian tempat ini tetap saja meninggalkan duka yang mendalam bagi para keluarga korban dari bencana tsunami.

Selain menjadi tempat pemakaman massal bagi 40.000 ribu lebih korban tsunami, di kuburan ini juga terdapat sebuah Monumen Tsunami yang dibangun menyerupai gelombang setinggi 15 meter. Dibangunnya monumen ini bertujuan untuk menggambarkan gelombang tsunami yang kala itu menghancurkan Aceh, dan memang ketinggiannya mencapai 15 meter.

Pada monumen tsunami yang ada di Kuburan Massal Siron ini, ujungnya terdapat sebuah kaligrafi dari potongan ayat Al-Qur’an Surat Yasin ayat 82. Kuburan ini memang sering dikunjungi oleh keluarga dari para korban tsunami Aceh. Terlebih lagi, ketika hari raya Idul Fitri, serta peringatan tsunami Aceh yang setiap tahunnya jatuh pada tanggal 26 Desember.

Berziarah ke Makam

Kamu bisa berziarah di makam ini untuk turut mendoakan para korban tsunami pada tahun 2004 lalu. Setidaknya lebih dari 40.000 ribu jenazah dikuburkan secara bersamaan pada sebuah lubang besar. Tempat ini tentu akan membuka memori lama tentang betapa dahsyat tsunami yang kala itu meluluh lantahkan sebagian besar dari Provinsi Aceh.

Keberadaan makam ini juga memberikan sebuah pelajaran, bahwa sebagai makhluk sosial kita harus mempunyai rasa tenggang rasa serta saling menghargai antar umat beragama. Banyak ditemui peziarah berbeda suku, agama dan budaya yang membaur di pemakaman ini untuk mendoakan keluarga dan kerabatnya.

Melihat Monumen Tsunami

Tak hanya berziarah, kamu juga bisa melihat sebuah monumen yang dibangun untuk menggambarkan gelombang tsunami yang kala itu menerjang Aceh. Monumen ini memang dibangun menyerupai gelombang tsunami yang tingginya mencapai 15 meter. Terdapat beberapa aksen warna biru, serta tulisan potongan ayat Al-Qur’an diujungnya.

Usai berziarah, kamu pun bisa beristirahat pada gazebo yang telah disediakan. Disini kamu seolah tengah berada disebuah taman biasa, dan tak ada kesan bahwa kamu sedang berada di makam. Pepohonan rindang, serta hamparan rumput hijau yang tertata rapi akan menjadi pemandangan yang bisa kamu nikmati.

Museum Aceh

Museum Aceh adalah sebuah museum etnografi dari suku bangsa-suku bangsa asli yang mendiami Aceh.

Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Letnan Jenderal Henri Nicolas Alfred Swart (lahir di Cibitung, 12 Oktober 1863) pada tanggal 31 Juli 1915. Bangunannya merupakan sebuah rumah Aceh (Rumoh Aceh) yang berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoosteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus – 15 November 1914. Pada waktu penyelenggaraan pameran di Semarang tersebut, Paviliun Aceh memamerkan koleksi-koleksi yang sebagian besar adalah milik pribadi Friedrich Wilhelm Stammeshaus (lahir di Sigli, 3 Juni 1881), yang pada tahun 1915 menjadi Kurator Museum Aceh yang pertama. Selain koleksi milik Stammeshaus, juga dipamerkan koleksi-koleksi berupa benda-benda pusaka para pembesar Aceh, sehingga dengan demikian Paviliun Aceh merupakan paviliun yang paling lengkap koleksinya.

Sistematika penataan pameraan di Paviliun Aceh pada Pameran Kolonial tersebut memperlihatkan gambaran mengenai etnografika dan hasil-hasil kesenian, alat-alat pertenunan Aceh dan hasil-hasilnya yang telah terkenal pada masa itu, senjata-senjata tajam diperlengkapi dengan foto-foto cara menggunakannya. Penanggung jawab koleksi dan penataannya ditangani oleh Friedrich Wilhelm Stammeshaus dan Overste Th. J. Veltiman yang dikirim khusus oleh Gubernur Aceh Letnan Jenderal Henri Nicolas Alfred Swart. Di samping pameran tersebut, di muka paviliun setiap saat dipertunjukkan tari-tarian Aceh.

Sebagai tanda keberhasilan dalam pameran itu, Paviliun Aceh memperoleh 4 medali emas, 11 perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai paviliun terbaik. Keempat medali emas tersebut diberikan untuk pertunjukan, boneka-boneka Aceh, etnografika, dan mata uang. Perak untuk pertunjukan, foto, dan peralatan rumah tangga.

Setelah Indonesia merdeka, Museum Aceh menjadi milik Pemerintah Daerah Aceh yang pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah daerah Tingkat II Banda Aceh. Pada tahun 1969 atas prakarsa T. Hamzah Bendahara, Museum Aceh dipindahkan dari tempatnya yang lama (Blang Padang) ke tempatnya yang sekarang ini. Setelah pemindahan ini, pengelolaannya diserahkan kepada Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (BAPERIS) Pusat.

Pantai Lampuuk Aceh

Pantai Lampuuk yang terletak di Lhoknga, Aceh Besar Provinsi Aceh memiliki hamparan pasir putih yang indah dan lembut. Air lautnya sangat jernih yang berwarna biru kehijauan disertai dengan ombak yang cukup besar dan cocok untuk berselancar.

Menikmati terik matahari di pantai berpasir putih, melihat sunset di sore hari dan berselancar di ombak laut yang biru, tidak hanya bisa dinikmati di Bali. Aceh punya Pantai Lampuuk yang memiliki semua kelebihan itu. Setiap hari libur misalnya hari sabtu dan minggu, pantai ini ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik wisatawan lokal dari berbagai daerah maupun dari manca negara.

Pantai Lampuuk memiliki garis pantai sepanjang sekitar 5 kilometer. Pantai ini berpasir putih bersih nan lembut, air laut berwarna biru kehijauan, dan ombak yang bersahabat untuk para peselancar. Ke arah daratan terdapat pepohonan pinus yang rimbun dan lebih jauh lagi terlihat deretan pegunungan yang hijau.

Selain keindahan pantai yang ditawarkan, disekitar pantai lampuuk juga disediakan tempat-tempat jualan aneka makanan dan minuman serta penginapan yang ekonomis yang semakin memanjakan wisatawan. Akan tetapi, untuk akses menuju pantai ini sangat terbatas karena transportasi umum belum tersedia untuk mencapai pantai lampuuk tersebut. Sehingga disarankan untuk pengunjung atau wisatawan untuk membawa kendaraan pribadi atau merental kendaraan. Untuk rental kendaraan sendiri banyak tersedia di kota Banda Aceh yang harganya cukup terjangkau.

Rumah Cut Nyak Dhien Aceh

Secara administratif, museum ini terletak pada Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Untuk mencapai Museum Rumah Cut Nyak Dhien, wisatawan setidaknya harus menempuh jarak kurang lebih 10 kilometer atau melakukan perjalanan selama 20 menit dari Kota Banda Aceh.

Letaknya yang berada tepat di pinggir jalan raya, juga menjadikan wisatawan mudah untuk menemukan lokasi dari Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini. Wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi layaknya mobil atau motor, dan juga tersedia kendaraan umum yang bisa dimanfaatkan oleh wisatawan. Kondisi jalan dari Banda Aceh menuju ke Kecamatan Peukan Bada juga terbilang sangat baik dan teraspal.

Sejarah Museum Rumah Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien lahir pada tahun 1848 dari keturunan bangsawan bernama Teuku Nanta Seutia dan ibunya bernama Uleebalang Lampageu. Sejak kecil Cut Nyak Dhien telah dikenalkan oleh orangtuanya dengan agama, sehingga beliau tumbuh menjadi perempuan yang patuh akan ajaran-ajaran agama Islam.

Ketika usianya 12 tahun, Cut Nyak Dhien telah dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim lamnga. Namun sayangnya pernikahan tersebut tak berlangsung lama, karena Teuku Cek Ibrahim Lamnga meninggal saat berjuang melawan Belanda. Tewasnya sang suami menjadikan Cut Nyak Dhien sangat marah kepada pihak Belanda dan berjanji akan menghancurkan Belanda sampai tuntas.

Selang beberapa lama, Cut Nyak Dhien dilamar oleh Teuku Umar yang kala itu merupakan seorang tokoh yang juga berjuang melawan Belanda. Awalnya, lamaran tersebut ditolak oleh beliau, namun karena Teuku Umar mengizinkan Cut Nyak Dhien bertempur melawan penjajah lamarannya pun akahirnya diterima.

Bersama Teuku Umar, pernikahan Cut Nyak Dhien dikaruniai seorang anak bernama Cut Gambang. Teuku Umar sendiri akhirnya juga wafat dalam penyerangan Meulaboh pada 11 Februari 1899. Sedangkan Cut Nyak Dhien meninggal pada 6 November 1908 dalam pengasingan di Sumedang, Jawa Barat.

Dalam perjuangan Teuku Umar bersama Cut Nyak Dhien, sempat diwarnai dengan pembelotan Teuku Umar kepada pihak Belanda. Aksi tersebut menuai banyak tentangan dari rakyat yang menganggap Teuku Umar telah berkhianat. Padahal, ini merupakan strategi Teuku Umar agar bisa mengakses persenjataan Belanda.

Karena Belanda menganggap Teuku Umar berada dipihaknya, Belanda menghadiahkan sebuah rumah kepada Teuku Umar. Itulah rumah yang kini menjadi Museum Rumah Cut Nyak Dhien. Namun bangunan yang kini bisa dilihat merupakan replika dari banguan yang dibuat menyerupai aslinya.

Rumah tersebut konon telah dibakar sampai habis oleh Belanda yang mengetahui bahwa Teuku Umar hanya berpura-pura pada tahun 1896. Rumah tersebut dibangun kembali oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta diresmikan oleh Fuad Hasan yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1987.

Pesona Museum Rumah Cut Nyak Dhien

Ketika tiba di lokasi Museum Rumah Cut Nyak Dhien wisatawan akan bisa melihat adanya sumur yang sangat tinggi di depan pintu utama. Sumur tersebut memang sengaja dibuat dengan ketinggian mencapai dua meter agar pihak Belanda tak bisa meracuni air yang ada didalam sumur.

Seperti layaknya rumah adat Aceh pada umumnya, desain Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini juga memiliki bentuk yang hampir sama. Berbentuk rumah panggung dengan ukuran 25 meter x 17 meter serta memiliki 65 tiang kayu peyangga. Pintu utama, memiliki ukuran yang cukup kecil sehingga wisatawan harus membungkuk untuk masuk ke rumah tersebut.

Ketika telah memasuki rumah, akan terasa suasana yang sejuk dan asri. Dinding-dinding ruangan terbuat dari papan-papan kayu, serta atap dihiasi dengan pelepah daun kelapa tua. Ruangan didalam Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini tergolong luas dan juga terdapat banyak pintu yang menghubungkan ruangan satu dengan ruangan yang lainnya. Pada dinding ruangan, wisatawan bisa melihat silsilah keturunan dari pahlawan wanita Indonesia tersebut. Selain itu terdapat pula koleksi yang menggambarkan pada masa Perang Aceh. Wisatawan tak perlu khawatir, karena terdapat penjelasan di bawah setiap pajangan yang ada di museum ini.

Memasuki ruang lain pada museum, terdapat koleksi kursi-kursi kayu dengan ukiran khas Jepara yang terpajang rapi. Di tengah deretan kursi tersebut terdapat meja yang diperkirakan dulu merupakan tempat bagi para tokoh-tokoh Aceh untuk berunding menentukan strategi berperang. Di ruangan tersebut juga bisa ditemukan koleksi senjata yang digunakan Cut Nyak Dhien yaitu rencong dan parang.

Pada Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini wisatawan juga bisa melihat kamar yang dulu digunakan oleh Cut Nyak Dhien. Walaupun hanya replika, namun desain kamar tersebut dibuat mirip dengan yang asli tanpa mengurangi atau menambah detail yang ada. Kamar ini dihiasi oleh tirai berwarna kuning seperti layaknya kamar miliki raja-raja.

 

Jika berwisata di Museum Rumah Cut Nyak Dhien, wisatawan tak perlu bingung karena disini ada seorang penjaga yang siap mengantarkan wisatawan untuk melihat museum tersebut. Dengan sabar, pemandu akan menjelaskan cerita dan sejarah yang terkandung dalam koleksi-koleksi museum ini.

Kapal Di Atas Rumah

Kapal Lampulo atau yang sering dikenal Kapal di Atas Rumah merupakan sebuah situs sejarah yang menjadi saksi bisu dahsyatnya tsunami. Kapal ini kini diabadikan menjadi sebuah objek wisata sejarah dengan keunikan tersendiri yang mampu menarik minat wisatawan.

Kapal Lampulo ini memang merupakan tempat wisata unik dan lain dari pada yang lain. Bahkan mungkin tidak ditemukan objek wisata seperti yang ada di Banda Aceh ini. Sebuah kapal tersangkut diatas rumah ini menjadi saksi bisu akan tragedi tsunami yang melanda Aceh pada 2004 lalu. Seiring dengan berjalannya waktu, kapal tersebut diabadikan menjadi situs wisata sejarah yang cukup menarik perhatian dari wisatawan.

Secara geografis, Kapal Lampulo terletak pada Desa Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Untuk mencapai lokasi tempat wisata ini, wisatawan bisa menggunakan kendaraan umum yang ada di Banda Aceh seperti labi-labi. Selain itu, bisa juga ditempuh dengan kendaraan pribadi yang memakan waktu kurang lebih 10 menit dari pusat Kota Banda Aceh.

Kapal Lampulo ini sebenarnya adalah sebuah kapal milik nelayan yang digunakan untuk mencari ikan dilaut. Kapal yang terbuat dari kayu tersebut terhempas oleh dahsyatnya gelombang tsunami hingga terseret sejauh 1 kilometer dari TPI Lampulo. Kapal pun terdampar hingga ke pemukiman warga, serta tersangkut diatas salah satu rumah warga.

Pesona Kapal Lampulo

Kapal Lampulo memiliki panjang sekitar 25 meter dan berat yang mencapai 65 ton. Sebenarnya selain kapal ini, masih ada kapal-kapal dan perahu lain yang terseret kuatnya gelombang tsunami seperti Kapal Apung PLTD. Namun yang menjadi daya tarik bagi wisatawan, terletak pada kapal yang seolah tersangkut diatas rumah milik warga.

Setelah Aceh kembali pulih, pemerintah setempat pun berinisiatif untuk merenovasi serta membangun tempat ini menjadi sebuah situs wisata sejarah. Situs Kapal Lampulo pun dipugar, serta dibangun beberapa fasilitas guna memberikan kenyamanan bagi para wisatawan.Di Kapal Lampulo ini, masih bisa dijumpai puing-puing dari rumah warga yang hancur karena terjangan tsunami Aceh. Kondisinya pun masih dipertahankan serta tak diubah dari bentuk aslinya. Wisatawan bisa melihat masih terdapat ruang tamu, kamar tidur, dapur serta kamar mandi tepat dibawah kapal.

Kamu bisa melihat sebuah museum kecil yang berisi foto-foto kerusakan Aceh kala itu. Terpampang juga ratusan nama yang menjadi korban bencana tsunami. Kamu juga bisa menaiki kapal serta melihat-lihat keindahan kapal yang memiliki bobot puluhan ton ini. Tempat ini memang menjadi salah satu tujuan favorit, yang tak pernah sepi pengunjung.

Credited By : PT. Adiguna Jaya (Tour & Travel Aceh – Medan)