Secara administratif, museum ini terletak pada Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Untuk mencapai Museum Rumah Cut Nyak Dhien, wisatawan setidaknya harus menempuh jarak kurang lebih 10 kilometer atau melakukan perjalanan selama 20 menit dari Kota Banda Aceh.

Letaknya yang berada tepat di pinggir jalan raya, juga menjadikan wisatawan mudah untuk menemukan lokasi dari Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini. Wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi layaknya mobil atau motor, dan juga tersedia kendaraan umum yang bisa dimanfaatkan oleh wisatawan. Kondisi jalan dari Banda Aceh menuju ke Kecamatan Peukan Bada juga terbilang sangat baik dan teraspal.

Sejarah Museum Rumah Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien lahir pada tahun 1848 dari keturunan bangsawan bernama Teuku Nanta Seutia dan ibunya bernama Uleebalang Lampageu. Sejak kecil Cut Nyak Dhien telah dikenalkan oleh orangtuanya dengan agama, sehingga beliau tumbuh menjadi perempuan yang patuh akan ajaran-ajaran agama Islam.

Ketika usianya 12 tahun, Cut Nyak Dhien telah dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim lamnga. Namun sayangnya pernikahan tersebut tak berlangsung lama, karena Teuku Cek Ibrahim Lamnga meninggal saat berjuang melawan Belanda. Tewasnya sang suami menjadikan Cut Nyak Dhien sangat marah kepada pihak Belanda dan berjanji akan menghancurkan Belanda sampai tuntas.

Selang beberapa lama, Cut Nyak Dhien dilamar oleh Teuku Umar yang kala itu merupakan seorang tokoh yang juga berjuang melawan Belanda. Awalnya, lamaran tersebut ditolak oleh beliau, namun karena Teuku Umar mengizinkan Cut Nyak Dhien bertempur melawan penjajah lamarannya pun akahirnya diterima.

Bersama Teuku Umar, pernikahan Cut Nyak Dhien dikaruniai seorang anak bernama Cut Gambang. Teuku Umar sendiri akhirnya juga wafat dalam penyerangan Meulaboh pada 11 Februari 1899. Sedangkan Cut Nyak Dhien meninggal pada 6 November 1908 dalam pengasingan di Sumedang, Jawa Barat.

Dalam perjuangan Teuku Umar bersama Cut Nyak Dhien, sempat diwarnai dengan pembelotan Teuku Umar kepada pihak Belanda. Aksi tersebut menuai banyak tentangan dari rakyat yang menganggap Teuku Umar telah berkhianat. Padahal, ini merupakan strategi Teuku Umar agar bisa mengakses persenjataan Belanda.

Karena Belanda menganggap Teuku Umar berada dipihaknya, Belanda menghadiahkan sebuah rumah kepada Teuku Umar. Itulah rumah yang kini menjadi Museum Rumah Cut Nyak Dhien. Namun bangunan yang kini bisa dilihat merupakan replika dari banguan yang dibuat menyerupai aslinya.

Rumah tersebut konon telah dibakar sampai habis oleh Belanda yang mengetahui bahwa Teuku Umar hanya berpura-pura pada tahun 1896. Rumah tersebut dibangun kembali oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta diresmikan oleh Fuad Hasan yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1987.

Pesona Museum Rumah Cut Nyak Dhien

Ketika tiba di lokasi Museum Rumah Cut Nyak Dhien wisatawan akan bisa melihat adanya sumur yang sangat tinggi di depan pintu utama. Sumur tersebut memang sengaja dibuat dengan ketinggian mencapai dua meter agar pihak Belanda tak bisa meracuni air yang ada didalam sumur.

Seperti layaknya rumah adat Aceh pada umumnya, desain Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini juga memiliki bentuk yang hampir sama. Berbentuk rumah panggung dengan ukuran 25 meter x 17 meter serta memiliki 65 tiang kayu peyangga. Pintu utama, memiliki ukuran yang cukup kecil sehingga wisatawan harus membungkuk untuk masuk ke rumah tersebut.

Ketika telah memasuki rumah, akan terasa suasana yang sejuk dan asri. Dinding-dinding ruangan terbuat dari papan-papan kayu, serta atap dihiasi dengan pelepah daun kelapa tua. Ruangan didalam Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini tergolong luas dan juga terdapat banyak pintu yang menghubungkan ruangan satu dengan ruangan yang lainnya. Pada dinding ruangan, wisatawan bisa melihat silsilah keturunan dari pahlawan wanita Indonesia tersebut. Selain itu terdapat pula koleksi yang menggambarkan pada masa Perang Aceh. Wisatawan tak perlu khawatir, karena terdapat penjelasan di bawah setiap pajangan yang ada di museum ini.

Memasuki ruang lain pada museum, terdapat koleksi kursi-kursi kayu dengan ukiran khas Jepara yang terpajang rapi. Di tengah deretan kursi tersebut terdapat meja yang diperkirakan dulu merupakan tempat bagi para tokoh-tokoh Aceh untuk berunding menentukan strategi berperang. Di ruangan tersebut juga bisa ditemukan koleksi senjata yang digunakan Cut Nyak Dhien yaitu rencong dan parang.

Pada Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini wisatawan juga bisa melihat kamar yang dulu digunakan oleh Cut Nyak Dhien. Walaupun hanya replika, namun desain kamar tersebut dibuat mirip dengan yang asli tanpa mengurangi atau menambah detail yang ada. Kamar ini dihiasi oleh tirai berwarna kuning seperti layaknya kamar miliki raja-raja.

 

Jika berwisata di Museum Rumah Cut Nyak Dhien, wisatawan tak perlu bingung karena disini ada seorang penjaga yang siap mengantarkan wisatawan untuk melihat museum tersebut. Dengan sabar, pemandu akan menjelaskan cerita dan sejarah yang terkandung dalam koleksi-koleksi museum ini.

Rumah Cut Nyak Dhien Aceh